Total Tayangan Halaman

Rabu, 27 Oktober 2010

PYOMETRA

Pyometra adalah akumulasi eksudat purulent dalam uterus. Mekanisme terjadinya pyometra dapat terjadi akibat gangguan hormonal dan infeksi bakteri. Gangguan hormonal berupa exposure estrogen yang tinggi dan diikuti dengan tingginya progestreon yang berlangsung secara berulang-ulang tanpa adanya kebuntingan maka akan menyebabkan terjadinya Cystic Endometrial Hiperplasi. Pyometra akibat infeksi bakteri terjadi pada saat hewan mengalami menstruasi dimana pada saat ini cairan yang dikeluarkan merupakan media yang baik untuk perkembangbiakan bakteri sehingga saat servix terbuka bakteri akan masuk.

Kejadian pyometra sering terjadi pada hewan yang berumur diatas 6 tahun, pada hewan muda (1-3 thn) kejadian pyometra dapat terjadi akibat pemberian hormon estrogen (mis. suntik KB) dan kejadian pyometra dapat dilihat 4 – 10 minggu setelah menstruasi. Pyometra ada dua jenis yaitu tertutup dan terbuka. Pyometra tertutup dapat terlihat dengan adanya pembesaran abdominal, dehidrasi, azotemia, shock, hypotermia atau hypertemia, muntah, banyak minum (polidipsia) banyak pipis (poliuria); sedangkan temuan klinis pyometra terbuka adalah adanya discharge purulent (nanah) sampai hemopurulent (nanah bercampur darah) dari vagina, lemas, depresi, tidak mau makan, polyuria, muntah, dan kadang diikuti dengan diare.

Diagnosis penyakit pyometra ini didasarkan adanya kotoran yang keluar dari alat kelamin secara tidak teratur (pyometra terbuka). Pada anjing, perabaan dengan tangan pada kedua sisi bagian perut dapat membantu diagnosa. Perut anjing yang mengalami pyometra akan teraba besar dan kencang. Pyometra dari pengamatan luar dapat dikelirukan dengan kebuntingan karena keduanya menyebabkan pembesaran perut. Namun diagnosa dapat diperkuat dengan USG, Xray, pemeriksaan darah (hematologi dan kimia darah), yang memberikan gambaran leukositosis, kadang disertai dengan anemia, hypoalbuminemia darah berkurang.

Pengobatan terhadap pyometra pada anjing dapat dilakukan dengan beberapa pilihan, yaitu :

1. Pemberian antibiotik amcillin 100 mg/ml dosis 10 – 22 mg/kg BB yang bersifat broad spektrum untuk menghambat terjadinya infeksi sekunder atau dapat juga dengan antibiotik Bactrim ® 480 gram yang diberikan dengan dosis 15mg/kg bb dua kali sehari. Bactrim ® berisi preparat trimethoprim atau sulfamethoxazole yang berfungsi sebagai anti bakteri yang memiliki daya kerja pada organ genitalia. Selain itu Bactrim ® juga memiliki daya kerja pada organ saluran urinarius sehingga dapat mengobati infeksi saluran urinarius. selain itu diberikan Ringer Laktat untuk mencegah terjadinya shock dan dehidrasi. Baytril ® (enrofloxacin) juga merupakan salah satu drug of choice pada kasus ini.

2. Ovariohysterctomy (OH)

OH merupakan terapi yang sangat dianjurkan dan terbaik untuk mengatasi pyometra. Prinsip operasi OH yaitu membuang ovarium dan uterus. Dengan membuang rahim dan indung telur maka sumber masalah sudah kita buang. Selanjutnya penanganan post operasi yang menentukan tingkat keberhasilan. Masa kritis post operasi pyometra sekita 3 hari post op. Apabila dalam 3 hari perkembangan menunjukan kemajuan yang cukup baik maka tingkat kesembuhan juga tinggi. dan berlaku sebaliknya.

3. Untuk anjing yang mempunyai nilai ekonomis tinggi (breeding) terapi yang dapat dilakukan dengan pemberian Prostaglandin (PGF). Penyuntikan prostaglandin dapat meningkatkan kontraksi myometrium, relaksasi servix, sehingga dapat dilakukan flushing (Namun terapi ini tidak dianjurkan dan jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya yg cukup rendah)

Pencegahan terbaik agar anjing anda tidak terkena penyakit ini adalah melakukan sterilisasi (pengangkatan rahim) pada anjing/kucing betina yang tidak diinginkan keturunannya (bukan untuk breeding). selain itu menjaga kebersihan kandang terutama saat anjing sedang loops (mens) sangatlah penting agar tidak terjadi infeksi secara ascendens. Jangan melakukan suntik KB pada anjing atau kucing anda. Sterilisasi tetap cara terbaik untuk mencegah kebuntingan yg tidak diinginkan.

Vaksinasi pada anjing

Semenjak resmi menyandang gelar drh. banyak sekali pertanyaan datang kepada saya tentang kesehatan hewan (mmh.. bisa dibilang "konsult colongan" :-))

setelah saya menyimak secara seksama (bahasa selalu bisa lebih memiliki "power" daripada tindakan) pertanyaan yg paling sering muncul adalah tentang vaksinasi. Okeh bagaimana kalau sekarang kita bicara tentang vaksinasi pada hewan kesayangan. Mungkin untuk saat ini saya akan mengulas tentang vaksinasi pada anjing.

  • Vaksin adalah?? dan Vaksinasi adalah??
Menurut kamus istilah kedokteran karangan dr. Difa Danis, vaksin adalah suspensi mikroorganisme yang dilemahkan dan dimatikan (bakteri, virus atau riketsia), yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit menular. Prinsip kerja vaksin sendiri adalah merangsang pembentukan antibodi terhadap mikroorganisme yang dijadikan vaksin, sehingga diharapkan antibodi yang terbentuk nantinya akan mampu melawan apabila ada "serangan" dari mikroorganisme tersebut. Sementara itu, vaksinasi adalah suatu proses atau tindakan memasukkan vaksin kedalam tubuh dengan tujuan agar tubuh membentuk antibodi terhadap mikroorganisme yang terkandung pada vaksin yg digunakan.

  • Seberapa pentingnya-kah vaksinasi pada anjing??
Jawabannya adalah SANGAT PENTING... kenapa begitu?? karena negara tropis spt Indonesia kita tercinta ini memungkinkan untuk banyak mikroorganisme bisa bertahan hidup dilingkungan dalam waktu yang lama. Secara umum vaksinasi pada anjing meliputi vaksinasi terhadap beberapa microorganisme seperti parvo virus (virus penyebab muntaber pd anjing), virus distemper (gejalanya variatif jadi tidak mungkin dijelaskan di post yg ini :p), parainfluensa, Canine viral hepatitis, leptospira dan rabies. Ke enam microorganisme tersebut memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang bervariatif tapi kesemuanya tetap merupakan microorganisme mematikan "utama" pada anjing dan 2 diantaranya bersifat zoonosis (penyakit yg dpt menular dr hewan ke manusia dan sebaliknya). FYI di klinik tempat saya bekerja sebagian besar dr anjing yg terkena salah satu dr mikroorganisme yg tersebut diatas umumnya anjing2 yang tidak memiliki riwayat vaksinasi yg bagus.

  • Kapankah saya harus melakukan vaksinasi terhadap anjing saya dan vaksin apa yg dapat saya berikan?
Pertanyaan ini sering saya dapatkan khususnya dari owner yang baru pertama kali memelihara anjing. Pada saat anjing berumur 6-8 minggu vaksinasi yang diberikan adalah vaksinasi DP (Distemper dan Parvovirus) kedua vaksinasi ini diberikan diawal karena umumnya kedua penyakit ini menyerang puppies dan sangat mematikan. Pada saat umur ini pula anjing sebaiknya diberikan obat cacing. Pada usia 10-12 minggu vaksinasi yg diberikan adalah vaksinasi PiBr (Parainfluenza dan Bordetella). Selanjutnya saat berusia 14-16 minggu vaksinasi yang diberikan adalah Vaksinasi DHLPPi (Distemper, Hepatitis, Leptospirosis, Parvovirus dan parainfluenza). Pada usia 20 minggu vaksinasi yg diberikan adalah vaksinasi DHLPPi+R (Distemper, Hepatitis, Leptospirosis, Parvovirus, parainfluenza dan Rabies)

  • Apa yg harus saya lakukan sebelum dan sesudah vaksinasi??
Seperti yg telah kita ketahui sebelumnya pada proses vaksinasi, kita memasukan bibit penyakit yg sudah dilemahkan dengan tujuan pembentukan antibodi. Pembentukan antibodi dapat terganggu apabila hewan dalam keadaan stress ataupun sedang mengidap penyakit (tidak sehat). Oleh karena itu, penting untuk diingat "HANYA HEWAN YANG SEHAT YANG BOLEH DIVAKSIN". Kalimat ini merupakan SOP MUTLAK diklinik kami, sehingga sebelum dilakukan vaksinasi kami akan memastikan terlebih dahulu kondisi hewan yang akan divaksin. Berikut ini merupakan syarat2 hewan yang diperbolehkan untuk divaksin:
1. Apabila hewan baru dibeli atau berpindah kepemilikan, maka hewan setidaknya harus sdh berada selama seminggu di lingkungan pemilik barunya. Kenapa harus demikian?? pada saat hewan berpindah kepemilikan dan memasuki lingkungan baru maka hewan akan melakukan adaptasi dan umumnya akan meningkatkan tingkat stress pada hewan tersebut, dan ingat hewan yg dalam keadaan stress tidak akan membentuk antibodi secara sempurna sehingga umumnya titer antibodi yg dihasilkan hanya sedikit dan vaksinasi dinyatakan gagal.
2. Hewan harus aktif, lincah, nafsu makan bagus, kondisi pup yang bagus, dan tidak ada gejala2 penyakit tertentu. Kesemua hal tersebut yang membuat dokter di klinik kami terkesan "Cerewet" karena terlalu banyak pertanyaan, tapi harus diingat sekali lagi
"HANYA HEWAN YANG SEHAT YANG BOLEH DIVAKSIN" :))
3. hewan harus memiliki suhu tubuh yg normal (38-39.3 oC) dan bebas dari cacing yang dibuktikan dari pengambilan sampel feces dan diperiksa dibawah mikroskop.
4. Setelah semuanya terpenuhi barulah vaksinasi dilakukan. proses pembentukan antibodi umumnya berlangsung selama 10-14 hari sehingga dalam kurun waktu tersebut anjing harus selalu dijaga agar tidak stress dan tidak boleh dimandikan. untuk anak anjing sebelum vaksinasi lengkap sebaiknya tidak dimandikan dulu.
5. jangan biarkan anjing berkontak dengan hewan baru yg tidak jelas status kesehatan dan vaksinasinya.
6. berikan anjing makanan yg bergizi dan bantu dengan pemberian vitamin atau suplement lainnya yg dapat membantu proses pembentukan antibodi.


Mungkin untuk post kali ini itu saja karena tidak terasa sekarang sudah pukul 00:55 dan saya harus kembali istirahat agar besok bisa kembali memberikan pelayanan kepada pasien2 saya di rawat inap. Semoga membantu.. kalau ada pertanyaan boleh langsung ditanyakan via comment. c ya....


Rabu, 29 April 2009

Coccidiosis pada ayam (oleh: ArRaniri Putra, SKH)

Infeksi Eimeria sp, diawali dengan tertelannya ookista oleh ayam. Ookista tersebut akan menghasilkan 8 sporozoit yang masing-masing akan menginfeksi sel epitel usus. Di dalam sel epitel usus sporozoit tersebut akan membulat dan tumbuh menjadi meron generasi pertama. Meron tersebut akan menghasilkan sejumlah merozoit generasi pertama yang kemudian melepaskan diri dan keluar dari sel induk semang (hari ke-3). Kejadian ini akan menyebabkan inang mengalami diare berdarah. Merozoit generasi pertama akan memasuki sel-sel epitel usus yang baru dan berubah menjadi meron generasi kedua. Meron generasi kedua ini akan memproduksi sejumlah besar merozoit generasi kedua yang kemudian akan keluar dari sel induk semang (hari ke-5). Kejadian ini akan menimbulkan diare berdarah yang jauh lebih hebat dibandingkan pada hari ke-3 dan menimbulkan kematian yang tinggi. Merozoit generasi kedua ini akan masuk kedalam epitel usus yang baru dan beberapa diantaranya akan berubah menjadi meron generasi ketiga yang selanjutnya menghasilkan merozoit generasi ketiga. Beberapa merozoit generasi kedua yang lainnya akan berubah menjadi mikrogamon dan makrogamon. Mikro gamon akan menghasilkan mikrogamet dan makrogamon akan menghasilkan makrogamet. Mikrogamet akan membuahi makrogamet dan menghasilkan zigot dan selanjutnya akan berubah menjadi ookista yang selanjutnya akan bersporulasi dan dilepaskan melalui feses (Levine 1978). Penularannya yang melalui feses ditambah dengan kondisi liter yang basah akan mempercepat penyebaran penyakit ini dalam satu kandang. Perpindahan pegawai dari satu kandang ke kandang lain tanpa diikuti dengan prosedur biosekuriti yang baik akan menyebabkan perpindahan penyakit ini antar kandang yang akan mengakibatkan satu flok akan terinfeksi penyakit ini.

Daftar Pustaka
Levine ND. 1978. Textbook of Veterinary Parasitology. USA: Burgess Publishing Company.

Chronic Respiratory Disease (Oleh: ArRaniri Putra, S.KH)

Patogenesa dari CRD diawali dengan masuknya Mycoplasma gallisepticum ke dalam saluran pernapasan melalui hidung kemudian menyerang silia dan mukosa saluran pernapasan. Mycoplasma kemudian menghasilkan metabolit, materi toksik dan terjadi pengurangan asam amino, asam lemak dan prekursor DNA di dalam tubuh ayam sehingga menyebabkan membran mukosa saluran pernapasan mengalami kerusakan. Kemampuan tubuh untuk mengeluarkan lendir dan efek antimikrobial dari lendir akan berubah sehingga motilitas silia menjadi menurun dan berakibat Mycoplasma mudah masuk ke dalam paru-paru dan kantung udara. Selanjutnya dari saluran pernapasan, Mycoplasma akan masuk ke dalam aliran darah dan tersebar ke seluruh tubuh. Kelompok ayam yang terserang CRD tidak menunjukkan gejala klinik yang jelas. Pada umumnya terlihat discharge kataral yang keluar dari lubang hidung, batuk dan bersuara pada waktu bernapas (ngorok). Pada saat nekropsi ditemukan adanya eksudat pada rongga hidung dan sinus, kantung udara menjadi keruh dan mengandung eksudat, pada stadium lanjut eksudat dapat menjadi kuning dan berkonsistensi seperti keju. Eksudat seperti ini juga ditemukan pada jantung dan pericardium. Sedangkan apabila ayam menderita komplikasi dengan E. Coli maka akan ditemukan peradangan pada pericardium (pericarditis), capsula hati (perihepatitis) dan kantung udara (air sacculitis). Pericarditis merupakan reaksi inflamasi akibat adanya infeksi secara hematogen. Pada hewan, tipe pericarditis yang sering ditemui adalah pericarditis fibrinous. Hal ini ditandai dengan adanya permukaan pericardial yang diselaputi oleh lapisan fibrin berwarna kuning. Lapisan fibrin pada pericardium merupakan suatu proses persembuhan oleh tubuh karena terdapat jaringan yang nekrosa telah meluas dan ditandai dengan eksudat dari peradangan tidak terserap oleh tubuh dan menetap atau bekuan darah tidak segera mengalami penyerapan.

Ikhterus Atau Jaundice

Ikhterus atau Jaundice terjadi apabila kadar bilirubin serum meningkat diatas normal. Bilirubin merupakan pigmen kuning pada empedu yang dihasilkan dari pemecahan heme dan reduksi biliverdin (Danis 2004). Kekuningan pada kulit, mukosa dan sclera terjadi karena sifat bilirubin yang akan mewarnai jaringan dan cairan yang kontak dengan nya (Lindseth 2006). Secara umum kejadian ikhterus dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu ikhterus pre-hepatik, ikhterus hepatik dan ikhterus post-hepatik. Ikhterus pre-hepatik terjadi apabila proses penghancuran sel darah merah mengalami peningkatan. Sel darah merah mempunyai waktu hidup dalam aliran darah selama 120 hari, setelah masa tersebut terlewati maka sel darah merah akan didegradasi di dalam limpa menjadi haemoglobin. Haemoglobin selanjutnya akan dipecah menjadi heme dan globin. Globin akan dikirim ke protein pool untuk digunakan kembali, sementara heme akan dipecah kembali menjadi Fe dan biliverdin. Fe akan di simpan untuk digunakan kembali di sumsum tulang, sementara biliverdin akan didegradasi menjadi bilirubin tak terkonjugasi (MacFarlane et al 2000). Bilirubin tak terkonjugasi memiliki sifat yang larut dalam lemak namun tidak larut dalam air sehingga tidak dapat diekskresikan kedalam empedu maupun urine. Bilirubin tak terkonjugasi tersebut akan berikatan dengan albumin dalam suatu kompleks larut air, kemudian diangkut oleh darah ke sel-sel hati (Lindseth 2006). Pada kasus anemia hemolitika, infeksi parasit darah atau penyakit autoimun yang menyebabkan terjadinya penghancuran sel darah merah secara berlebihan akan menyebabkan terbentuknya bilirubin dalam jumlah yang banyak. Pembentukan bilirubin yang berlebih tersebut akan melampaui kemampuan hati untuk melakukan konjugasi. Hal ini mengakibatkan kadar bilirubin tak terkonjugasi dalam aliran darah meningkat dan terjadi ikhterus pre-hepatik (MacFarlane et al 2000). Bilirubin tak terkonjugasi akan dikonjugasikan dengan asam glucuronic menjadi bilirubin terkonjugasi yang memiliki sifat yang larut dalam air sehingga dapat diekskresikan didalam urin dan empedu. Apabila terjadi kerusakan hati seperti pada kasus hepatitis, maka bilirubin gagal dikonjugasikan sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin tak terkonjugasi dalam darah dan terjadi ikhterus hepatik. Setelah dikonjugasikan bilirubin akan dialirkan bersama-sama dengan air, elektrolit, garam empedu, fosfolipid, kolesterol dan garam anorganik sebagai empedu (Lindseth 2006). Pada kasus cholelitiasis, cholengioma, fasciolosis dan kasus-kasus lainnya yang menyebabkan terjadinya obstruksi dukstus empedu akan menyebabkan empedu gagal diekskresikan dan tertahan didalam vesica velea. Hal ini akan menyebabkan empedu gagal diekskresikan dan bilirubin terkonjugasi akan diserap kembali untuk disekresikan dalam urin. Proses penyerapan kembali bilirubin terkonjugasi ini akan menyebabkan kadar bilirubin terkonjugasi dalam darah meningkat sehingga terjadi ikhterus post-hepatik.

Daftar Pustaka

Danis D. 2004. Kamus Istilah Kedokteran. Jakarta: Gitamedia press.

Lindseth GN. 2006. Gangguan Hati, Kandung Empedu dan Pankreas. Dalam buku Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit vol. 2, hlm. 472. Hartanto dkk, editor. Terjemahan dari Liver, Biliary And Pancreas Disorder. Dalam buku Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Processes. Price dan Wilson, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

Macfarlane PS, Reid R, Callander R. 2000. Pathology Illustrated. 5th Ed. London: Churchill Livingstone.


Selasa, 28 April 2009

Leptospirosis Pada Anjing

Leptospirosis merupakan penyakit bakterial yang disebabkan oleh agen genus Leptospira (Ettinger & Feldman 1995). Leptospirosis tersebar di seluruh dunia yang merupakan penyakit zoonosis yang sangat diperhatikan. Terdapat dua serotipe dari Leptopira yang penting pada anjing yaitu; 1) Serotipe Canicola yang berhubungan erat dengan kejadian nefritis interstisialis akut dan 2) Serotipe icterohaemorrhagie yang berhubungan dengan kejadian jaundice dan hemoragi. Perbedaan antara kedua serotipe ini disimpulkan bahwa serotipe canicola berhubungan dengan jaundice dan serotipe icterohaemorrhagie berhubungan dengan penyakit ginjal (Noel dan Latimer 2008). Leptospirosis pada anjing selalu berkaitan dengan gagal ginjal akut dan penyakit hati yang disertai dengan jaundice (Ettinger & Feldman 1995).

Perubahan PA yang merupakan patognomonis dari penyakit ini meliputi hepatitis, ikhterus, nefritis interstitialis dan pendarahan multiorgan. Menurut Noel dan Latimer (2008) Leptospira dapat menyerang berbagai organ antara lain ginjal, hati, limpa, sistem saraf pusat (SSP), mata, dan organ reproduksi.

Patogenesa penyakit ini diawali dengan anjing terinfeksi Leptospira melalui kontak dengan urin hewan yang terinfeksi sebelumnya, air yang terkontaminasi Leptospira dari urin tikus, kopulasi, gigitan dan daging yang terinfeksi Leptospira (Noel dan Latimer 2008). Leptospira masuk ke dalam tubuh hewan melalui kulit yang luka atau membran mukosa kemudian masuk ke pembuluh darah. Bakteremia ini dapat merusak pembuluh darah dan melisiskan darah. Leptospira memiliki enzim lipase yang ekan merusak membran sel darah dan sel endotel hal inilah yang menyebabkan terjadinya pendarahan multi organ. Lisisnya sel darah merah membuat limpa meningkatkan kerjanya untuk melakukan destruksi sel darah merah yang menyebabkan terjadinya peningkatan bilirubin tak terkonjugasi dalam darah yang menyebabkan terjadinya ikhterus. Selain ikhterus pre hepatik, leptospirosis juga menyebabkan ikhterus hepatik karena rusaknya sel-sel hati dan ikhterus post-hepatik karena tersumbatnya duktus choledukus oleh bakteri tersebut dan reruntuhan sel dinding duktus. Bakteri ini tersebar di beberapa organ tubuh penting antara lain ginjal, hati, SSP, limpa, mata, dan organ reproduksi. Tubuh dapat bereaksi terhadap infeksi Leptospira dengan memproduksi antibodi. Umumnya Leptospira dapat dieliminasi dari sebagian besar organ oleh antibodi yang diproduksi tubuh. Namun keberadaan Leptospira di ginjal sulit dieliminasi, karena ginjal khususnya daerah glomerulus merupakan daerah yang jarang ditemukan antibodi karena ukuran antibodi yang tidak dapat melewati filtrat glomerulus (Ettinger & Feldman 1995). Berdasarkan anamnese, dikatakan bahwa anjing telah menjalani vaksinasi terhadap leptospira. Munculnya leptospirosis pada hewan yang telah divaksinasi dapat terjadi karena beberapa hal diantaranya kegagalan vaksinasi, kegagalan tubuh membentuk antibodi karena imunosupresif ataupun anjing terinfeksi leptospira dari serevoar lain yang tidak terdapat dalam vain. Pada kondisi ini, Leptospira dapat keluar bersama urin selama beberapa bulan hingga tahunan. Keparahan lesio organ tergantung pada virulensi agen dan kerentanan hewan sebagai induk semang (Noel dan Latimer 2008). Penularan banyak terjadi saat musim hujan atau dalam keadaan lembab (Hines 2006).

Daftar Pustaka

Ettinger SJ, Feldman EC. 1995. Textbook of Veterinary Internal Medicine-Diseases of the Dog and Cat. 4th Edition. Volume 2. Philadelphia: WB Saunders Company.

Hines R. 2006. Leptospirosis in Dogs. http://www.2ndchance.info/leptospirosis. htm. [25 April 2009].

Noel S, Latimer KS. 2008. An Overview of Canine Leptospirosis. http://www.vet. uga.edu/vpp/CLERK/noel/. [25 April 2009].


Sabtu, 14 Februari 2009

Wah...

Wah sudah lama sekali tidak membuka blog ini..
maklum sempet ada trouble yg buat gw susah bgt log-in..

semuanya udah di mulai,,, yup just 1 years again i will be a veterinarian...

wew,,, it's amaizing to be a veterinary student,, everything is look awesome,,

thiz month i have do my "koas" in reproduction rehabilitations unit,, it's amaizing if u see the movement of sperm under the microscop.. it's make me felt that u are the best person who come from the best sperm..

it's amizing when ur hand touch the ovarium with rectal exploration in cattle...

it's amaizing when u see that horse is have some rituals to start their copulation..

all of that make me proud to be a VET...

Mengenai Saya

Foto saya
Depok, Jawa Barat, Indonesia
Veterinarian in PDHB drh. Cucu, dkk